Thursday, 26 July 2012

ANDA DIPANGGIL UNTUK MEMILIH DESTINASI ANDA..

YEREMIA 1 : 4 - 5
1:4 Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya:
1:5 "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.”

MAZMUR 139 : 16 — “ mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya.”

Seperti Yeremia dan Daud yang telah dipanggil sebelum masuk ke rahim ibu mereka, begitu juga setiap kita yang dilahirkan. Namun demikian, berdasarkan kehendak bebas, Allah mengijinkan setiap orang memilih untuk hidup di dalam panggilan itu atau tidak. Ia berkata tentang diri-Nya : “ Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” MATIUS 22 : 14

Pilihan itu datang dari keputusan-keputusan yang kita ambil, entah saat kita mampu atau tidak untuk tetap berdiam di dalam kepenuhan kemuliaan-Nya. Ia takkan menaruh pada kita hal-hal yang tidak dapat kita tanggung, sebab hal itu dapat menghancurkan kita. Destinasi memanggil setiap kita, dan ia melakukan kehendak bebas kita yang menentukan hasil dari panggilan itu. Saat hati kita terus-menerus merespon suara Pencipta kita, “Aku memilihmu !!! Di atas segala-galanya, Aku memilihmu !!!,” kita menuntun perjalanan kita menuju destinasi kita.

I. Destinasi Kita Bukanlah Produk Akhir, Melainkan Sebuah Perjalanan Menuju Akhir Itu.

Ialah asal mula kita dan Ia jugalah destiny kita. Kita ada di dalam-Nya sebelum dunia diciptakan dan kita kembali diam di samping-Nya, dan bahkan kita berdiam, saat kita turut mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya dengan menerima kebaikan dari curahan Darah-Nya.

Perjalanan menuju destinasi kita adalah seperti kita “berlari dalam pertandingan” yang memainkan hari-hari yang tertulis di dalam kitab-Nya bagi setiap kita. Perjalanan ini terjadi satu hari di setiap waktu, satu keputusan di suatu saat untuk memilih-Nya di atas segala-galanya. Di dalam menjalani hidup kita, mengarahkan mata kita kepada-Nya dan, sekali kita, secara sadar membuat keputusan untuk “memilih-Nya,” kita mendapati diri kita berada di tengah-tengah destinasi kita, yang hanya kita dapati di dalam-Nya.

KISAH PARA RASUL 17 : 26 - 28
17:26 Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka,
17:27 supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing.
17:28 Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.

Dalam memikiran berat, kita menetapkan destinasi kita untuk menjadi sebuah tujuan melalui barang, pekerjaan atau gelar yang kita raih. Ini adalah bentuk yang ingin kita ciptakan bagi diri kita sendiri, posisi yang kita raih seperti penyanyi, pendeta, ataupun bankir. Saya tidak yakin hanya ini yang ada di fikiran Allah. Bagi kebanyakan kita, hal ini mungkin saja menjadi alasan bahwa destinasi kita tampak mengelak dari kita saat tahun-tahun berlalu dari harapan kita menuju apa yang kita anggap sebagai destinasi kita. Kita berusaha membentuk suatu bentuk dimana kita akan berfungsi. Pertama bentuk, dan fungsi akan muncul sebagai hasil dari alasan yang selama ini memikat budaya kita.

Destinasi sejati kita tersembunyi di dalam fungsi “menghidupi” hari-hari yang dibentuk-Nya bagi kita, bukan gelar ataupun deskripsi kerja. Bukan tentang menjadi seorang nabi, tapi lebih sebagai permulaan belajar bagaimana mendengar suara-Nya dan bernubuat di dalam kasih Bapa. Di dalam fungsi sebagai nabi kita benar-benar mendapati destinasi kita, yaitu untuk menjadi serupa dengan-Nya. Hal ini berlaku bagi setiap pekerjaan dan/ gelar pelayanan yang anda jalani. Meski kita semua memiliki hari-hari yang berbeda yang tertulis bagi kita di dalam kitab-Nya, tetap semuanya adalah permulaan untuk menjadi serupa dengan-Nya, menjadi satu dengan-Nya.

Destinasi kita bukanlah produk akhir melainkan “perjalanan” menuju akhir itu, hari-hari yang kita jalani seperti yang tertulis di dalam kitab-Nya. Hidup kita di dalam-Nya hari demi hari adalah destinasi sejati kita untuk semakin menjadi seperti-Nya; bentuk yang kita ambil saat menjadi, misalnya, seorang guru, penginjil, dll. Saya risau kita kehilangan sukacita perjalanan itu sebab kita menanti untuk meraih suatu posisi, nama atau apapun. Itulah hari-hari yang kita jalani hingga saat ini dengan semua kesalahan, kegagalan, dan bahkan kesuksesan yang membentuk destinasi kita.

II. Destinasi adalah Suatu Kata Kerja – Destinai adalah Seseorang

Saya percaya kita salah mengartikan destinasi sebagai kata benda, ketika, di dalam Allah, ini sebenarnya lebih merupakan suatu kata kerja ketimbang kata benda. Tanpa memperhatikan pekerjaan, proses adalah hal yang sama. Fungsi panggilan kita dan proses yang membawa kita menuju kedewasaan adalah destinasi sejati kita di dalam Allah.

Destinasi adalah bagaimana kita membuat pilihan-pilihan di hari-hari kekecewaan, sakit hati dan dikhianati yang membawa kita menuju kasih dan kesatuan bersama Allah. Kita dapat memilih untuk mengasihani diri kita, atau mengeluh atas keadaan kita dan lamanya kita berada di sana, atau sesuatu yang tampak buruk, yang sebenarnya menjauhkan kita dari arah yang salah. Pilihan kita yang lain adalah menatap mata-Nya dan berkata, “Aku memilih-Mu !!! Apapun yang terjadi dan tak peduli berapa lama aku menanggungnya, di atas segala-galanya, aku memilih-Mu !!!”

Destinasi juga terkait bagaimana kita menangani promosi, perkenanan, dan kemakmuran. Intinya bukanlah bagaimana kita menerima hal-hal tersebut, tetapi bagaimana kita memerintah dan berkuasa pada posisi itu.

Apakah kita mengambil keuntungan bagi diri kita atau kita memakainya untuk mencurahkannya bagi orang lain?

Apakah kita memakai perkenanan kita untuk memperkuat dan mengangkat orang lain ke dalam panggilan mereka, bahkan di atas diri kita? di tengah semua keuntungan yang kita terima, masih terdapat sebuah seruan automatik dari dalam diri kita, “Tuhan, aku memilih-Mu !!! Engkaulah bagianku, Engkaulah destinasiku !!!”

Kidung Agung berkata : KIDUNG AGUNG 8 : 6 - 7
8:6 -- Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!
8:7 Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.

III. DIALAH DESTINASI KITA !!!

Pertanyaan yang diajukan saat kita meninggalkan dunia ini lebih seperti, “Apakah kita menjadi seperti-Nya ?”

“Apakah kita belajar untuk mengasihi ?”

“Apakah kita mati setiap hari agar bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalamku ?”

Destinasi sejati kita ada di DALAMNYA, untuk menjadi seperti-Nya, apapun panggilan kita. DIA-lah Destinasi kita !!!

EFESUS 1 : 10 - 11
1:10 sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.
1:11 Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan -- kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya.

Saat mendekati “kegenapan waktu” ini, ada orang-orang yang berkumpul menurut pengertian ini.

Kitalah orang yang mengasihi seperti Ia mengasihi, dan selanjutnya menjadi kasih yang berjalan dan bersedia mengorbankan hidup kita bagi orang lain !!!

Inilah destinasi kita di zaman ini !!!

Apapun bentuk hidup yang kita jalani, ialah untuk memiliki hidup yang tidak memikirkan diri sendiri saat kita menjadi satu di dalam keserupaan dengan-Nya !!!

Hal inilah yang akan menarik hadirat-Nya !!!

“Dan Aku sendiri, demikianlah firman TUHAN, akan menjadi tembok berapi baginya di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya.” – ZAKARIA 2 : 5

Mencari KEBAHAGIAN

Kita sering mendengar, hampir semua orang mengatakan ingin mencari KEBAHAGIAN.

Kalau kebahagiaan boleh dibeli, pasti orang-orang kaya akan membeli kebahagiaan itu, saya tidak akan mendapat kebahagiaan kerana sudah diborong oleh mereka.

Kalau kebahagiaan itu ada di suatu tempat, pasti belahan lain di bumi ini akan kosong, kerana semua orang akan berkumpul dimana kebahagiaan itu berada .

Untungnya kebahagiaan itu berada di dalam hati setiap manusia. Jadi kita tidak perlu membeli atau mencari kebahagiaan itu . Hanya dengan Hati yang tulus, Bersih dan Ikhlas disertai fikiran yang jernih, kita boleh merasakan dan menikmati kebahagiaan itu bilapun, dimanapun dan dalam keadaan apapun.

Ciptakanlah selalu Kebahagiaan dalam hati dan dalam fikiran kita, maka kita akan selalu menjadi orang yang bersyukur telah dikaruniai kebahagiaan,....

Posisi SAYA, KAMU, DAN KITA SEMUA sebagai Orang percaya secara sah kepada Tuhan Yesus:

1. Kita ada dalam Kristus (Ef. 1:3-7).
"Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,"

2. Kita adalah ciptaan baru (II Kor. 5:17-21; Gal. 6:15).
"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."

3. Kita ada dalam kerajaan terang ( Roma 8:38; Kolose 1:13-14;).
"Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, TIDAK AKAN DAPAT MEMISAHKAN KITA dari KASIH ALLAH, yang ada dalam KRISTUS YESUS, Tuhan kita."

4. Kita mendapat tempat di surga bersama Kristus (Ef. 2:2-8).
"Allah mengasihi kalian, itu sebabnya Ia menyelamatkan kalian karena kalian percaya kepada Yesus. Keselamatan kalian itu bukanlah hasil usahamu sendiri. Itu adalah anugerah Allah. Jadi, tidak ada seorang pun yang dapat menyombongkan dirinya mengenai hal itu."

BIARKAN TUHAN MENILAIMU

Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk di balik perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi, tetaplah berbuat baik.
Terkadang orang berfikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois. Tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.

Apabila engkau berjaya, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga teman yang iri hati atau cemburu. Tetapi teruskanlah kejayaanmu itu.

Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi, tetaplah bersikap jujur dan terbuka.

Apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja. Tetapi, janganlah berhenti dan tetaplah membangun.

Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi, tetaplah berbahagia.

Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan orang. Tetapi, teruslah berbuat baik. Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki, dan itu mungkin tidak akan pernah cukup. Tetapi, tetap berikanlah yang terbaik.

Sadarilah bahwa semuanya itu ada di antara engkau dan Tuhan. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain. Jangan pedulikan apa yang orang lain pikir atas perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada orang-orang jujur dan Dia sanggup melihat ketulusan hatimu.

Perspektif Benar Tentang Bahagia

Bahagia itu bukan keadaan baik yang menunjang kesenangan kita. Bahagia itu bukan kerana semua orang-orang di sekitar kita menyenangkan. Bahagia itu bukan kerana boss anda tidak memarahi anda.

Bahagia itu justru ketika keadaan di sekitar kita tidak baik atau tidak menunjang kesenangan kita namun kita tetap boleh tersenyum dan menjaga hati kita tetap baik dan senang. Bahagia itu adalah tetap ceria di tengah kumpulan orang-orang yang menyebalkan. Bahagia itu adalah tetap tersenyum ketika kita dimarahi oleh boss. Bahagia adalah tetap semangat ketika tubuh sedang sakit.

Jadi kesimpulannya adalah bahwa orang yang bahagia adalah orang yang pada saat keadaan di sekitarnya tidak mendukung untuk bahagia namun ia tetap memilih untuk bahagia, tersenyum, ceria dan menjaga sukacita dan mood yang baik atau kesenangannya tidak terpengaruh oleh keadaan sekitar yang buruk dan tidak tercemar oleh keburukan dan virus yang menyerang untuk meracuni hatinya.

Bahagia bukan berasal dari luar diri kita kerana bahagia bukan ditentukan oleh keadaan sekitar. Bahagia mengalir keluar dari dalam hati kita, terpancar melalui wajah yang ceria.

Berbahagialah selama masih bernafas di dunia kerana bahagia adalah hak dan pilihan kita, bukan ditentukan oleh orang lain. Bahagia sudah diberikan oleh Tuhan untuk kita, tinggal kita yang melanjutkan untuk mempertahankan dan mengembangkannya atau membiarkan bahagia yang ada pada kita hilang atau dicuri. Bahagia adalah anugerah, berkat sekaligus perintah Tuhan.

Matius 5:3 ''Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. 5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. 6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. 7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan
beroleh kemurahan. 8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan
melihat Allah. 9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. 10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 11 Berbahagialah kamu, jika karena. Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. 12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga,
sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.''

"Dari Daud. Nyanyian pengajaran. Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!" (Mazmur 32:1-2).

Yakobus 1:2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai- bagai pencobaan, 3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. 4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.

"Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia." (Yakobus 1:12).

"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22).

‎" Kemenanganmu atau kemenangan Tuhan ? "

Inilah saatnya Tuhan membawamu di dalam jalan kemenanganNya, bukan kemenanganmu, walau sesaat engkau mengalami kekalahan.

Sebagaimana kemenangan Bapa yang dipersembahkan melalui anakNya yang tunggal dengan cara kehancuran Yesus Kristus, kemenanganNya justru pada saat seolah-olah Yesus tidak menerima pertolongan dari Bapa saat Yesus mati dan menyerahkan nyawaNya, dan Bapa tidak menganggap itu kekalahan, tetapi justru saat itulah kemenangan Bapa terjadi.

Kemenanganmu tidak tertangkap kasat mata dunia, sehingga dunia tidak akan mengagumimu, karena hanya Tuhan yang patut menerima pengagungan.

Jikalau engkau menang, kemenangan itu milik Tuhan, dan jika engkau kalah, Tuhan tetap menang, serta jika Tuhan menganugrahkan kemenangan itu kepadamu, itulah keberhasilan hidup yang sejati dalam Tuhan, bukan berhasil dengan kekuatan pikiran dan kata hatimu, serta jika engkau tetap taat Tuhan akan membawamu masuk dalam kemenanganNya, maka engkau pribadi yang siap membawa bau yang harum kepada dunia ini, dan dari kematianNya engkau harus menghidupkan dunia ini.

Jika engkau mengalami kesakitan, itu hanya sebatas manusia lahiriahmu dan jiwamu, tetapi ini cara Tuhan menyempurnakan rohmu yang akan sampai masa kekekalan.

Izinkan Roh Allah sepenuh bekerja sempurna dalam rohmu, dan jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan ,karena inilah cara Tuhan membawa melalui rohmu masuk dalam kemenanganNya, yang membawa bau harum untuk dunia melihat, mendengar dan percaya pada pribadi Tuhan.
2 Kor 2:11-17

‎"Bagaimana caranya agar Tuhan tinggal dalam rumah hatimu ?"

Pernahkah engkau sadari bahwa segala sesuatu akan mendatangkan kesia-siaan jikalau engkau tidak melakukannya dengan kerelaan, sukacita dan gembira hati.

Jangan memberikan sesuatu yang membuat Tuhan tidak mau tinggal dalam rumah hatimu, tetapi berikanlah kerelaan, kelapangan dan sukacitamu, supaya Tuhan mau tinggal dihatimu dengan sukacita pula.

Sebagaimana Tuhan berkenan tinggal dalam kediaman Zakeus yang rela dan sukacita menerima pribadi Tuhan dan Tuhan janjikan bukan hanya Zakeus, tapi seisi rumahnya menerima keselamatan, dan keselamatan terjadi yang bermuara dari rumah orang yang tidak pernah diperhitungkan dunia.

Zakeus dapat melakukan sesuatu yang lebih, tubuhnya yang pendek tidak menjadi penghalang, dengan ia berjuang naik di atas pohon hanya untuk melihat pribadi Tuhan, dan ia pribadi yang mampu memandang dengan benar, bahwa Yesus melakukan segala sesuatu, sehingga itu yang menggores hati Tuhan, lalu terjadilah percakapan yang berkelanjutan Tuhan memberi perintah untuk ia turun, dan Tuhan berkenan tinggal di kediamannya dan ia rela kehilangan yang ia kasihi yaitu hartanya, disaat ia menerima lawatan Tuhan.

Tuhan ingin kita dapat berjuang naik melampaui segala penghalang yang ada, untuk memusatkan seluruh hidup kita kepada semua perintah Tuhan, karena ini masa akhir musuh mengakhiri dengan kegerakan kuasanya, tetapi ini masa Tuhan mengawali untuk Tuhan melakukan karya keselamatan dunia dan kalau engkau tidak siap, berakar, rohmu akan terhempas dari pribadi Tuhan.

Lukas 19:1-10

BACALAH BUKU-BUKU ROHANI

Dipetik dari: Buku renungan Rohani.
"Itulah yang harus ada di sampingnya dan haruslah ia membacanya seumur hidupnya untuk belajar takut akan TUHAN, Allahnya, dengan berpegang pada segala isi hukum dan berpegang pada ketetapan ini untuk dilakukannya." Ulangan 17:19

Apakah anda ingin menjadi orang tua yang baik? Belajarlah dari orang yang berhasil mendidik dan membesarkan anaknya menjadi seseorang yang bahagia. Ingin menjadi pelatih yang baik? Belajarlah dari seseorang yang mempunyai catatan kemenangan yang baik, seseorang yang dihormati oleh kelompok yang dipimpinnya, dan seseorang yang selalu mendidik dengan kemampuan dan kedewasaan yang baik.
Tapi bagaimana jika anda ingin menjadi seseorang yang mempunyai kehidupan rohani berbuah? Salah satu caranya adalah dengan membaca Alkitab dan ditambah oleh buku-buku rohani yang ditulis oleh orang-orang yang mempunyai kehidupan rohani yang berbuah, seseorang yang berhasil membangun hubungan yang baik dengan TUHAN dab sesama.

BELAJARLAH DARI MEREKA YANG MEMILIKI HUBUNGAN DAN KEDEKATAN DENGAN TUHAN.

Kehidupan tanpa persahabatan adalah seperti langit tanpa matahari.

Amsal 17:17 "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran."

Persahabatan yang baik itu sangat penting dan dirindukan oleh semua orang, akan tetapi kita jarang mendapati persahabatan yang demikian.

Amsal 18:24 "Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara."

Seorang musuh terlalu banyak bagi kita, betapa menyenangkan hidup ini, karena kita memiliki banyak sahabat.

Seindah apapun warna langit, tanpa matahari akan kelihatan gelap, demikian juga kita, tanpa sahabat hidup jadi kurang indah dan menarik.

Mulai saat ini jadikan diri kita sahabat yang baik bagi siapa saja, sehingga ketika berjalan, bekerja, melayani, ada keselesaan yang dirasakan para sahabat kita.

Persahabatan adalah kasih dengan pengertian.

Yohanes 15:15 "Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku."

Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, maka dosa telah memutuskan hubungan mereka dengan Allah dan juga mereka terputus satu sama lain.

Semua itu terjadi ketika hubungan kita dengan Tuhan tidak berjalan dengan benar, hal itu memutus hubungan kita dengan setiap orang.

Hal pertama yang Adam dan Hawa lakukan setelah mereka berdosa adalah menyemat daun ara untuk menutupi diri mereka sendiri.

Seperti Adam dan Hawa, ketika kita mulai bersembunyi dari Allah, maka kita mulai bersembunyi dari orang lain dalam hidup ini.

Keintiman diganti oleh rasa takut dan ketidakpercayaan, saling benci dan irihati, sikap saling menutupi dan saling curiga terjadi dalam sebuah hubungan.

Kejadian 3:7 Adam dan Hawa "Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat"

Apa daun ara kita?
Apakah kita sedang berpura-pura?
Apa hal-hal dalam hidup yang kita takutkan untuk berbagi dengan orang lain?

Mulai saat ini jadilah sahabat yang penuh kasih dan pengertian bagi pasangan, keluarga, teman dan orang lain, karena Allah saja menyebut kita sahabatNYA.