Tuesday, 10 April 2012

Melalui Kristus kita telah dibenarkan dan dilayakkan menjadi bagian dari Kerajaan Allah

“Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu” (1 Petrus 2:21-25)

Melalui Kristus kita telah dibenarkan dan dilayakkan menjadi bagian dari Kerajaan Allah..., selanjutnya, setelah kita dibenarkan bukan berarti semuanya telah berakhir, namun merupakan sebuah permulaan kehidupan kita yg baru di dalam Tuhan..., dalam kebenaran itu, kita dipanggil untuk meneladani Kristus Yesus, berjalan dan hidup sama seperti Dia, yaitu membawa kabar keselamatan itu kepada setiap orang...., kebenaran yang kita terima bukanlah hasil usaha kita, sama sekali tidak ada sesuatu pun yang membuat kita layak menerimanya, semua itu benar² hanya karena kasih karunia Kristus Yesus..., jadi bisa dikatakan Paskah adalah penggenapan dari misi Tuhan Yesus Kristus..., salib adalah tujuan Yesus ketika Ia melepaskan kemuliaan sorga dan menjelma menjadi manusia..., sebab jika Ia tidak mati di kayu salib, maka kita manusia tetap berdosa dan tidak bisa diperdamaikan dengan Allah..., dosa telah membuat kita terpisah dari Allah..., namun lewat kematian Yesus dikayu salib, maka dosa kita telah dihapuskan dan kebenaran Kristus itu menjadi milik kita...

‎"Begitulah Sifat Manusia"

Kita sering terdengar keluhan2 kawan2, teman2, saudara mara, adik beradik, keluarga, anak2, suami isteri, ibubapa...

Kadang-kadang kita mendengar keluhan2 itu dari mereka yg datang kepada kita sambil mengongsikan keluhan2 mereka...

Kadang-kadang kita sendiri juga mengeluh...

Bila kita kongsikan keluhan pada org lain, orang lain mengatakan kepada kita pada org lain plak...

Bila kita kongsikan pada isteri kita, si isteri sampaikan pada anak mereka agar anak mereka memahami si bapa tetapi lain pula jadinya, si anak memarahi si bapa sebab tidak pandai menjaga hati si anak... bila si anak mengeluh pada si ibu, si ibu sampaikan pada si suami agar si suami memberi perhatian pada si anak tetapi lain pula jadinya, si bapa memarahi si anak sebab tidak menghormati si bapa.

Begitulah lumrah sifat manusia... apa yang kita keluhkan itu akan terjadi juga atas diri kita...

Nehemia 5:1 "Maka terdengarlah keluhan yang keras dari rakyat dan juga dari pihak para isteri terhadap sesama orang Yahudi."

Jika kita kongsikan keluhan kita pada TUHAN, TUHAN pasti punya jawapan
"BEGITULAH SIFAT MANUSIA... BARANGSIAPA YANG BERSANDAR PADAKU, DIA PASTI MEMAHAMINYA"

TUHAN YESUS mengatakan begitu kerna DIA mengetahui segala sesuatu dan kita juga mengetahui bahawa sepanjang hidupNYA, DIA tak pernah mengeluh.

Ya, kita bukan TUHAN tetapi YESUS pernah menjadi manusia yang hidup seperti kita. Mengapa kita tidak mahu mencontohi perbuatanNYA yang baik itu...?

YESUS pokok dan kitalah cabang-cabangNYA, tinggallah di dalamNYA pastikan kita akan berbuah...

Menegur Dengan Kasih

Yang dimaksud dengan menegur adalah memberi teguran, menasehati, mendidik dan mengingatkan. Sikap orang dalam menerima teguran bermacam-macam. Ada yang menerima dengan senang hati, ada yang biasa-biasa saja, ada yang mengiyakan hanya untuk mempercepat proses pembicaraan, ada yang menolak dengan tegas, ada yang berkelit, bahkan ada yang tersinggung dan marah, serta masih banyak lagi reaksi lainnya.

Beberapa kebenaran yang perlu kita ketahui saat menegur orang lain:
1. Menegur haruslah dilandasi dengan kasih. Memang terdapat resiko orang yang ditegur menjadi tidak menyukai kita, tetapi kalau memang ia perlu ditegur, tegurlah!

Mengasihi bukan berarti harus selalu setuju, harus selalu mengiyakan, harus selalu tersenyum manis. Untuk mengasihi diperlukan teguran yang dibungkus dengan kejujuran dan keterusterangan, tanpa pura-pura.

Menegur yang dilandasi oleh kasih akan menutupi pelanggaran orang tersebut. Orang yang ditegur dengan kasih akan lebih mudah menerima teguran yang ditujukan kepadanya dan akibatnya kemungkinan untuk yang bersangkutan berubah menjadi lebih besar. Sebaliknya bila kita menegur dengan tidak berlandaskan kasih, hasilnya adalah pertengkaran. Pertengkaran bukanlah tujuan akhir yang ingin kita capai.

2. Menegur haruslah dengan hikmat. Hikmat akan membantu kita untuk memberi teguran yang tepat. Hikmat di sini berarti meliputi teknik, cara, kata-kata, waktu, tempat, serta situasi dan kondisi untuk penyampaian teguran yang tepat.

3. Hasil dari menegur dengan menggunakan hikmat akan berbuah manis. Awalnya mungkin terdapat gesekan, bahkan mungkin dapat menciptakan konflik dengan yang bersangkutan. Namun, kita tetap perlu mengambil resiko ini.

4. Jangan menahan teguran karena takut terhadap resiko gesekan dan konflik.
Salah satu bentuk kasih adalah teguran yang berhikmat. Saat kita tidak melakukan hal ini, kita berarti tidak takut pada Tuhan. Tidak takut pada Tuhan berarti dosa. Jangan takut menegur bila memang diperlukan!

Lalu bagaimana menegur dengan menggunakan hikmat?
1. Menegur dengan lemah lembut. Kelemahlembutan merupakan salah satu buah Roh yang diperlukan (Galatia 5:23). Lemah lembut bukan berarti lemah atau plin-plan. Lemah lembut merupakan sikap hati yang mau mengerti kondisi dan keterbatasan orang lain.

2. Mengetahui dengan jelas orang-orang yang perlu ditegur, orang-orang yang tidak perlu ditegur, saat dan situasi yang tepat untuk menegur. Walaupun saat kita tahu seseorang itu salah, ada saatnya kita perlu menggunakan hikmat. Ya, tidak serta merta kita dapat menegur, bahkan kadang-kadang menahan teguran atau tidak memberikan teguran memerlukan suatu hikmat tersendiri.

Berikut sejumlah ciri-ciri orang yang tidak perlu ditegur atau Anda sebaiknya menahan teguran pada waktu yang lain:

- Orang yang tidak mau mendengarkan teguran dan tidak mempedulikan teguran, bahkan membenci teguran. Orang-orang ini adalah orang yang akan menguras emosi kita. Jadi, jangan habiskan waktu, tenaga, dan emosi untuk orang yang tidak mau mendengar. Bukan karena kita tidak peduli, tetapi memang ada kesempatan lain yang lebih tepat untuk menegur. Cukup bawa orang ini dalam DOA.

- Orang yang gemar bersilat kata. Saat Anda memberi teguran pada orang yang gemar bersilat kata, orang ini akan terus-menerus memberi jawaban dan alasan. Hemat nafas Anda! Hentikan sampai di situ dan bawa orang ini dalam DOA.

Cara-cara menegur adalah demikian:
1. Menegur hanya berdua saja, tidak di depan orang lain. Orang akan lebih mudah menurunkan ego bila ditegur berdua saja tanpa kehadiran orang lain. Pada saat ada orang lain yang hadir, kecenderungan untuk membela diri dan mempertahankan ego akan lebih besar daripada saat hanya berdua.

2. Bila berdua saja tidak mempan, minta bantuan 1 atau 2 orang lain untuk menegur. Ini harus melihat kasusnya juga. Tidak semua kasus dapat diperlakukan sama. Jika memang diperlukan bantuan dari 1 atau 2 orang lain, lakukanlah!

3. Bila setelah minta bantuan dari 1 atau 2 orang tetap tidak mempan juga, minta bantuan lebih banyak orang. Ini hanya perlu dilakukan untuk kasus-kasus yang sangat serius. Untuk kasus-kasus yang dapat mengundang keresahan bagi orang banyak, hal ini perlu dilakukan. Bila yang bersangkutan masih tidak mau mendengarkan teguran, hemat nafas Anda! Cukup bawa yang bersangkutan dalam DOA Anda.

Jadi, Anda siap memberi teguran?

Cabaran kita.

Ada orang-orang Kristian yang berkata bahawa lebih baik tukar agama kerana mengalami berbagai bentuk penindasan dan ketidak-adilan daripada orang-orang tertentu yang berada ditapuk kekuasaan. Meskipun perkara ini tidak dilakukan secara terang-terangan tetapi secara tersembunyi dan secara halus. Namun ia tetap membuat kita sakit hati, geram, marah dan kecewa.

Misalnya yang dialami oleh beberapa orang Kristian. Meskipun mereka mempunyai kecekapan, kepakaran, pengalaman yang luas, dan berkelayakan tinggi tetapi kerana mereka orang Kristian maka didalam hak kenaikan pangkat mereka diketepikan begitu saja. Mereka tidak dinaikkan pangkat. Kalau ada pun, dekat-dekat mau pencen kira-kira didalam lingkuangan satu atau dua tahun barulah dinaikkan pangkat; Orang-orang Kristian juga mempunyai peluang yang kurang untuk memasuki Institut Pengajian Tinggi(IPT). Demikan juga didalam hal mendapat biasiswa. Harapan mereka adalah agak tipis. Kenapa? Kerana orang-orang yang berkuasa mempunyai sikap yang pilih-kasih. Mereka biasanya lebih cenderung memberi keutamaan kepada orang-orang yang sebangsa dan seagama dengan mereka. Bukankah ini satu bentuk penindasan dan bukti ketidak-adilan?

Walau bagaimana tidak semua orang mereka bersikap seperti itu. Kerana ada juga orang-orang mereka yang baik dan bersempati dengan nasip orang-orang Kristian. Lalu memberi bantuan dan sokongan yang iklas sesuai dengan semangat keperimanusian dan keperhatinan kepada sesama manusia. Namun jumlah mereka tidaklah begitu besar.

Yaa....memang orang-orang Kristian banyak godaan, cabaran dan tentangan. Meskipun begitu, kita tidak boleh berputus asa lalu mengambil jalan yang senang dan mudah dengan bertukar agama. Kita mesti bertahan sehingga akhir hidup kita didunia ini.

Kita mesti ingat dan sedar bahawa Tuhan Yesus pernah berkata "Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahawa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu"(Yohanes 15:18). Sebab itu bertahanlah. Pertahankan iman Kristianmu, meskipun dipandang rendah oleh orang lain. Kerana apa yang penting ialah bukan kebahagian duniawi tetapi kebahagian yang kekal di akhirat nanti.

Sebab itu, janganlah gara-gara tidak mendapat layanan yang istimewa didunia ini, kita menyangkal dan meninggalkan Tuhan Yesus. Ingatlah Dia adalah satu-satuNya Penyelamat umat manusia yang dihantar oleh Allah Bapa yang Maha Kuasa. Jestru itu, marilah kita bertahan dan menjadi orang-orang Kristian yang tabah, kuat, dan setia sampai selama-lamanya. Meskipun menghadapi berbagai tentangan dan cabaran daripada pihak-pihak yang tertentu yang tak seiman dengan kita. Marilah tetap bersabar dan sentiasa mengampuni mereka kerana membenci kita.

Biarlah mereka "membenci" kita dengan perbagai bentuk dan cara. Yang penting, kita tidak membenci mereka kembali. Kerana kita berpegang kepada pengajaran Tuhan Yesus yang berbunyi: "Kasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamau. Kerana dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di Surga...(Matius 5:44-45).Amin.

Ikutilah Aku...

Yesus berkata kepada Matius,"Ikutilah Aku." (Matius 9:9). Jemputan atau ajakanNya ini memang merupakan satu cabaran bagi Matius. Tetapi sahutannya adalah serta-merta. Dia berdiri lalu mengikuti Tuhan Yesus. Bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita setia mengikutNya?

Inilah cabaran kita selaku pengikut Tuhan Yesus iaitu mengikutiNya dengan setia dan sabar meskipun banyak cabaran dan godaan yang dilalui didalam perjalanan kita selaku pengikutNya. Tapi, kata orang alang-alang mandi kalau tak basah dan alang-alang bercinta kalau tidak sampai berkahwin. Sebab itu, meskipun kita mempunyai banyak cabaran, rintangan dan godaan didalam hal mengikut Tuhan Yesus, janganlah kita mudah putus asa. Kita kuatkanlah hati dan tabah semangat untuk terus mengikutiNya meskipun kita menghadapi perbagai masalah. Kerana lebih baik mati didalam proses terus mencuba menjadi pengikutNya yang baik daripada mati tanpa mencuba.

Jestru itu, marilah kita terus mencuba dan mencuba untuk menjadi umat Kristian yang lebih baik. Dan jangan lupa meminta bantuan rohani daripada Tuhan yang Maha Esa. Janganlah terlalu bergantung kepada tenaga dan kekuatan diri sendiri. Amin.

Mintalah...

Firman Tuhan berbunyi: "Mintalah maka akan diberikan kepadamu...."(Matius 7:7a). Cuba kita renungkan secara peribadi: Apakah yang selalu kita minta daripada Tuhan apabila kita menyampaikan permohonan kita didalam doa? Bukankah selalunya kita meminta hal dan perkara yang berkaitan dengan perkara-perkara duniawi?

Biasanya kita meminta kekayaan duniawi seperti wang, harta, emas, rumah, kereta, tanah dan sebagainya. Selain daripada itu kita juga suka meminta kedudukan yang tinggi didalam dunia ini dan meminta pangkat. Meskipun perkara-perkara ini tidak jahat jika ianya digunakan dengan baik namun kenapa kita terlalu meminta kekayaan duniawi? Kenapa tidak meminta harta surgawi? Sedarkah kita bahawa kekayaan duniawi adalah sementara sahaja? Sesungguhnya, harta duniawi bukanlah milik kita selama-lamanya? Kerana semua kekayaan duniawi ditinggalkan apabila kita kembali kehadapan Tuhan. Segala-galanya kita tinggalkan apabila kita mati!

Jadi, marilah kita belajar meminta harta surgawi atau harta rohani seperti ketabahan dan kesabaran melakuan kehendak Tuhan, kesetiaan mengikuti segala pengajaran Tuhan, hati yang dermawan, hati yang pengampun, sifat yang rajin dan setia berdoa, sifat yang bencikan kejahatan dan dosa, dan sebagainya. Kerana inilah harta yang berkekalan yang kita bawa mati. Dan kita diadili oleh Tuhan berdasarkan kepada harta surgawi yang kita miliki dan bukannya berdasarkan kepada banyaknya harta duniawi yang kita miliki. Jestru itu, marilah kita belajar meminta harta surgawi daripada harta duniawi. Amin.

Sembunyikan.....

Firman Tuhan berbunyi: "Lebih baiklah orang yang menyembunyikan kebodohannya
daripada yang menyembunyikan kebijaksanaannya"
(Sirakh 41:15).
Apakah kebiasaan atau kecenderungan kita? Biasanya berlagak pandaikan!? Inilah yang menjadi masalah kita, walaupun tak faham tetapi mengaku faham; Tak mengerti pun mengaku mengerti; Tak tahu pun mengaku tahu. Akhirnya bila kedapatan maka, orang pun tahu kita sebenarnya bodoh. Sebab itu, Janganlah berlagak pandai kalau tak pandai nanti suatu hari nanti kedapatan dan ketahuan juga. Dan kalau dah kedapatan jangan hairan jika orang menyatakan kepada kita "pandai tapi bodoh!"

Janganlah kerana malu mengaku tidak pandai atau takut dipandang rendah atau takut kalah maka, kita berlagak pandai. Sebenarnya, lebih baik kita mengakui "kebodohan", atau kelemahan dan kekurangan kita supaya kita lebih terbuka untuk mempelajari apa yang kita tidak tahu. Dan orang pula lebih mudah dan senang untuk memberi bantuan atau pertolongan kepada kita untuk mengatasi kepincangan kita.

Dan kalau kita ada kebijaksanaan atau kepandaian, janganlah luki atau tamak atau kedekut sehingga kita tidak mahu membahagikan atau mengsharingkan kebijaksanaan kita itu kepada orang lain. Disamping itu, janganlah pula bersikap sombong dan minta puji kerana kita bijak. Sesungguhnya, jauhilah sikap yang "masuk bakul dan angkat sendiri." Sebaliknya, jika kita ada kepandaian' bahagiakanlah kepandaian kita itu kepada orang lain terutama sekali yang memerlukan bantuan dan pertolongan. Dengan ini, Kita lebih diberkati Tuhan dan disayangi orang.Amin.

Kekayaan

Ada kisah tentang seorang muda yang kaya datang kepada Tuhan Yesus dan bertanya apakah yang harus dia buat untuk memperoleh hidup yang kekal. Yesus menjawap bahawa jika dia mahu benar-benar sempurna "pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemarai dan ikutlah Aku." Tetapi orang muda itu tidak menyambut cabaran Tuhan Yesus. Dia pergi dengan sedih kerana dia memang banyak harta(Matius 19:16-22).

Menjadi orang kaya tidak salah; dan mempunyai kekayaan juga tidak salah. Tetapi janganlah gara-gara mahu menjadi kaya, kita lakukan apa saja untuk menjadi kaya sehingga Tuhan dan pengajaranNya dilupakan. Ini adalah tindakan yang salah dan tidak bijak. Sebab itu, jika kita mahu mencari kekayaan maka, carilah dengan cara yang baik dan murni.

Ingatlah bahawa kekayaan yang kita miliki janganlah menghalang dan menyebabkan kita lupa kepada Tuhan. Sebab itu, janganlah kita menggunakan kekayaan kita untuk melakukan perkara-perkara yang jahat dan tidak bermoral. Gunakanlah kekayaan yang kita miliki dengan baik. Misalnya membantu orang-orang yang miskin dan susah. Dengan ini, kekayaan mendatangkan berkat keatas diri kita daripada Tuhan; dan kebahagian serta kegembiraan kepada penerimanya. Amin.

Hasilkan buah pertobatan

Seruhan pertobatan adalah begitu jelas dan terang sekali didalam Alkitab. Misalnya Dibahagian Perjanjin Baru, khususnya didalam Injil Matius bab 3, ayat 8 berbunyi: “Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.”

Petikan Alkitab ini menyeru atau memanggil kita untuk berbuat atau bertindak dengan melakukan sesuatu untuk mengubah diri kita sekiranya ada sesuatu perkara/hal yang tidak baik dan jahat yang kita lakukan yang bertentangan dengan pengajaran Tuhan. Kita mestil hasilkan “buah pertobatan” sesuai dengan kesalahan kita itu. Contohnya, kita suka berbohong. Jadi, kita mesti hasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan maka dengan itu kita tidak berbohong lagi. Keputusan untuk tidak berbohong lagi adalah hasil yang kita hasilkan sesuai dan setimpal dengan perbuatan kita yang suka berbohong. Ini bererti kita menjadi orang yang sentiasa bercakap benar dan tidak berbohong lagi, Inilah yang maksudkan “hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.”

Contoh seterusnya ialah berkaitan dengan pergi ke Gereja. Kita malas sekali pergi ke Gereja setiap minggu(Ahad). Inilah kelemahan dan kesalahan kita. Jadi, kita perlu bertobat dengan menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan. Didalam kontex ini kita harus berubah dan rajin pergi ke Gereja setiap Minggu. Inilah buah pertobatan yang kita hasilkan.

Saudara dan saudari, saya percaya kita sedar dan tahu kebanyakan kelemahan, kecenderungan dan kesalahan kita sendiri. Sebab itu, marilah menghasilkan buah-buah pertobatan sesuai dengan kelemahan, kecenderungan dan kesalahan kita masing-masing. Marilah luruskan jalan hidup kita yang bengkang-bengkok; Marilah membuang yang jahat dan ganti dengan yang baik; marilah putihkan hidup kita yang hitam demi keselamatan hidup kita dan demi kemuliaan Tuhan yang Maha Esa. Amin.

Melakukan kebaikan tetapi....

Didalam Injil Matius tercatat: "Kemudian dibawalah kepada Yesus seorang yang kerasukan setan. Orang itu buta dan bisu, lalu Yesus menyembuhkannya, sehingga si bisu itu berkata-kata dan melihat. Maka takjublah sekalian orang banyak itu, katanya: "Ia ini agaknya Anak Daud. Tetapi ketika orang Farisi mendengarnya, mereka berkata: "Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan"(Mat.12:22-24).

Orang-orang yang melihat Yesus menyembuhkan banyak orang yang mengalami berbagai-bagai penyakit merasa takjub dengan kebolehan Yesus memberi penyembuhan. Tetapi didalam masa yang sama, mereka ragu-ragu dengan asal-usul Yesus. Sementara itu, para orang Farisi bukan pula memuji dan mengakui kebolehan Yesus memberi penyembuhan tetapi sebaliknya mereka membuat tuduhan yang buruk dan jahat sekali kepada Yesus. Kenapa mereka berbuat demikian? Mungkin mereka ada alasan yang tersendiri tetapi apa yang jelas ialah mereka "iri hati dan cemburu dengan kebolehan Yesus menyembuhkan orang yang berpenyakit! Lalu, mereka memburuk-burukkan Yesus supaya Dia tidak diterima dan tidak dihormati oleh orang. Inilah motif utama mereka mengaitkan Yesus dengan Beelzebul, penghulu setan. Aneh yaaa......Yesus buat kebaikan pun dikeji dan dihina!

Apakah anda pernah mengalami perkara seperti yang dialami oleh Yesus? Anda buat sesuatu yang baik dan mulia tetapi dipandang buruk pula oleh orang lain. Anda iklas memberi bantuan tetapi disalah-faham oleh orang pula. Anda berbuat baik, tetapi bukan pula mendapat pujian sebaliknya mendapat kejian dan dilemparkan dengan perbagai kata-kata kesat dan makian. Dan.....pengalaman seperti ini boleh melemahkan semangat kita untuk tidak melakukan kebaikan lagi. Atau terus berhenti daripada melakukan kerja-kerja amal.

Sesungguhnya, saudara dan saudari, jika kita mengalami pengalaman yang pahit semasa membantu orang, janganlah tawar hati. Teruskanlah perbuatan yang baik. Biarlah kerja-kerja kita yang baik tidak mendapat apa-apa penghargaan dan pujian; Biarlah ada orang yang memandang rendah dan memburuk-burukkan perbuatan kita yang baik. Kerana apa yang penting ialah memberi bantuan dan pertolongan dengan iklas dan baik. Seperti yang dikatakan oleh Alkitab, Memberi lebih diberkati daripada menerima. Lagi pun, setiap perbuatan yang baik, tidak akan dilupakan oleh Tuhan. Inilah yang paling penting. Biarlah kita tidak mendapat apa-apa dari orang semasa didunia ini. Yang pasti, suatu masa nanti Tuhan akan membalas perbuatan kita yang baik..Amin